Saturday, August 20, 2016

HADIS 7

HADIS  KE 7


وَحَدَّثَنِي عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَمِّهِ أَبِي سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَتَبَ إِلَى أَبِي مُوسَى أَنْ صَلِّ الظُّهْرَ إِذَا زَاغَتْ الشَّمْسُ وَالْعَصْرَ وَالشَّمْسُ بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَهَا صُفْرَةٌ وَالْمَغْرِبَ إِذَا غَرَبَتْ الشَّمْسُ وَأَخِّرْ الْعِشَاءَ مَا لَمْ تَنَمْ وَصَلِّ الصُّبْحَ وَالنُّجُومُ بَادِيَةٌ مُشْتَبِكَةٌ وَاقْرَأْ فِيهَا بِسُورَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ مِنْ الْمُفَصَّلِ



MAKNA HADIS

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari pamannya - [Abu Suhail] - dari [bapaknya], bahwa [Umar bin Al Khathab] menulis kepada Abu Musa Al Asya'ri: laksanakanlah shalat zhuhur ketika matahari tergelincir dan shalat ashar ketika matahari terlihat putih jernih sebelum menguning. Laksanakanlah Shalat maghrib ketika matahari terbenam, dan akhirkan shalat Isya' selagi kamu belum tidur, dan laksanakanlah shalat subuh ketika bintang-bintang terlihat saling bersusun, dan bacalah di dalamnya dua surat panjang yang termasuk kategori dari surat-surat Al Mufasshal (surat yang dimulai dari surat Al Hujurat sampai akhir)




BERKENALAN DENGAN NAMA DISEBUT DALAM KISAH

(Abu Musa Al-Asy'ari ra.)


Ia dilahirkan di Zabin, Yaman, 21 tahun sebelum Hijriah. Nama lengkapnya Abu Abdullah bin Qis bin Salim bin Hadhor bin Harb. Nama panggilannya Abu Musa dan al-Asy'ari dinisbahkan kepada bani al-Asy'ar di Qohthan. Beliau adalah seorang zahid, ahli fiqh, al-Imam al-Kabir dan ahli ibadah. Tubuhnya tidak gemuk dan tidak terlalu pendek. Suaranya bagus.
Sejarah beliau dimulai dari Yaman tempat dimana beliau dilahirkan. Masa itu penduduk Qohthan banyak yang menyembah berhala. Meskipun ia masih berusia muda, tapi ia menolak dan mengingkari penyembahan berhala yang berlaku di masyarakatnya. Ia tahu bahwa berhala yang disembah tidak memberikan manfaat dan juga bahaya.
Dalam hatinya berkeinginan agar datang pertolongan dari langit untuk menyelamatkan manusia dari penyembahan berhala. Keinginannya itu terwujud ketika beliau mendengar bahwa Muhammad bin Abdullah adalah utusan Allah mengajarkan agama tauhid, mengajak kepada amar ma'ruf dan budi pekerti mulia. Maka dengan niat ikhlas beliau meninggalkan tanah kelahirannya pergi menuju Mekkah tempat di mana Rasulullah diutus.
Sesampainya di Mekkah beliau duduk di sekeliling Rasulullah dan belajar darinya. Selama mengikuti ajaran Rasulullah, beliau sangat rajin dan tekun. Akhirnya setelah merasa cukup beliau pulang ke Yaman untuk mengajarkan agama tauhid yang dibawa Rasulullah. Sedikit banyak ia membawa perubahan di kaumnya. Kemudian beliau balik ke hadapan Rasulullah setelah selesai perang Khaibar. Kebetulan kedatangannya bersamaan dengan datangnya Ja'far bin Abu Tholib bersama sahabat lain dari Habasyah (Ethopia).
Di situlah Rasulullah memberikan penjelasan tentang ajaran Islam kepada semua yang datang. Ternyata kedatangan beliau dari Yaman tidak hanya seorang diri. Tapi beliau datang bersama 53 lebih dari laki-laki dari penduduk Yaman. Dua saudara sedarahnya juga ikut datang yaitu Abu Ruhm dan Abu Burdah. Orang-orang yang datang bersama beliau oleh Rasulullah disebut "al-Asy'ariun" (orang-orang Asy'ari).
Tentang kisah hijrahnya, beliau berkata; "Kami keluar dari Yaman bersama 53 orang lebih dari kaumku. Suadaraku Abu Ruhm dan Abu Burdah juga ikut. Kami berlayar dengan prahu ke Najashy, Ethopia. Ternyata di sana sudah ada Ja'far dan sahabat-sahabat lain. Kemudian kami bertemu setelah selesai perang Khaibar.
Kemudian Rasulullah berkata; "Kamu berhijrah dua kali, pertama ke Najashy dan kedua hijrah kepadaku." (HR.Bukhori Muslim). Sejak itulah Rasulullah sangat cinta padanya, dan juga kaumnya. Anehnya sebelum kedatangan beliau, Rasulullah berkata kepada para sahabat bahwa akan datang kepada kami besok suatu kaum hatinya sangat lembut. Besok harinya kedatangan mereka disambut meriah dengan saling berjabat tangan. Inilah sejarah pertama berjabat tangan dalam Islam.
Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda, "Orang-orang Asy'ari ini bila mereka kekurangan makanan dalam peperangan atau ditimpa paceklik, maka mereka kumpulkan semua makanan yang mereka miliki pada selembar kain, lalu mereka bagi rata. Mereka termasuk golonganku, dan aku termasuk golongan mereka. "
Abu Musa menempati posisi yang tinggi di kalangan kaum Muslimin. Ia ditakdirkan menjadi sahabat Rasulullah dan muridnya, serta menjadi penyebar Islam ke seluruh dunia. Abu Musa merupakan kombinasi yang khusus dari sifat-sifat utama. Ia seorang prajurit yang gagah berani dan pejuang yang tangguh bila berada di medan perang. Namun ia juga seorang pahlawan perdamaian, peramah, dan tenang. Keramahan dan ketenangannya mencapai batas maksimal
Beliau adalah seorang faqih (ahli fiqh) dan sangat cerdas sehingga dapat memahami setiap persoalan yang muncul. Disebutkan bahwa beliau termasuk empat orang ahli hukum umat Islam, Umar, Ali, Abu Musa dan Zaid bin Tsabit. Tidak hanya itu, beliau juga penguasa yang sangat berani. Di medan perang, dengan beraninya ia sanggup memikul beban dan tanggung jawab pasukan umat Islam. Sampai suatu ketika Rasulullah berkata, "Tuan para kesatria adalah Abu Musa ."
Rasulullah pernah menugaskan beliau menjadi penguasa atau wali di kota Zabid dan Adnan. Diantara para sahabat, beliau lah yang memiliki suara bagus ketika membaca al-Qur'an. Kelembutan dan kehalusan suaranya membuat orang yang mendengarkan terharu dan terenyuhlah hatinya. Suaranya mampu menembus ke relung hati.
Dari Abu Musa diceritakan bahwa Rasulullah berkata, "Wahai Abu Musa , kamu telah diberi seruling dari serulingnya (bagus suaranya) keluarga Daud. "(HR.Bukhori Muslim). Dalam hadits lain diceritakan, Anas berkata suatu malam beliau (Abu Musa ) melakukan sholat malam. Bacaan al-Qur'an dalam sholatnya itu terdengar oleh istri-istri Rasulullah. Merekapun bangun dan mendengarkan dengan baik. Ketika pagi-pagi beliau diberitahu bahwa istri-istri Rasul mendengar bacaannya.
Biasanya kalau Umar bin Khatthab bertemu dengannya, ia harus diperintah untuk membaca al-Qur'an sembari berkata, "Wahau Abu Musa, kami rindu dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur'an." Pada waktu Umar bin Khatthab mengutus beliau untuk menjadi wali dan amir di Bashrah pada tahun 17 Hijriah, beliau mengumpulkan penduduk Basrah sembari berkhutbah; "Amirul mukminin mengutusku untuk mengajarkan kepada kalian kitab Allah dan sunnah Rasul. Dan juga untuk membersihkan jalan kesesatan kalian.".
Mengenai dirinya ketika memimpin Bashrah, Hasan Al-Bashri pernah berkata, "Tak seorang pengendara pun yang datang ke Bashrah yang lebih berjasa kepada penduduknya selain dia "
Pada masa khalifah Utsman beliau ditugaskan untuk menjadi wali di Basrah, tapi kemudian ia mengundurkan diri. Setelah itu dipindah ke Kuffah. Pada waktu terjadi fitnah dan perselisihan antara Ali dengan Muawwiyah, beliau mengajak penduduk Basrah untuk memberikan dukungan kepada Ali.
Selama berjuang bersama Rasulullah, Beliau telah meriwayatkan kurang lebih 355 hadits. Diantara hadits riwayatnya, dari Rasulullah bersabda; "Sesungguhnya Allah membentangkan tangannya di malam hari untuk memberi ampunan bagi orang yang berbuat jahat di siang hari. Dan Allah bentangkan tangannya di siang hari untuk memberi ampunan bagi orang yang berbuat jahat di malam hari sampai matahari terbenam." (HR.Muslim)
Suatu hari beliau berkata; "Ada dua hal yang dapat memutus dariku kenikmatan dunia; yaitu mengingat mati dan mengingat dosa dihadapan Allah." Beberapa kata hikmah dan petuah beliau; "Ikutilah petunjuk al-Qur'an..!. jangan pernah merasa jemu untuk ikut". Beliau wafat di Kuffah pada tahun 44 Hijriah.




KETERANGAN HADIS



( أَنْ صَلِّ الظُّهْرَ إِذَا زَاغَتِ الشَّمْسُ ) أَيْ : مَالَتْ ، وَفِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ أَنَسٍ : " أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ حِينَ زَاغَتِ الشَّمْسُ فَصَلَّى الظُّهْرَ " وَلَا يُعَارِضُ حَدِيثَ الْإِبْرَادِ ؛ لِأَنَّهُ مُسْتَحَبٌّ لَا يُنَافِي جَوَازَ التَّقْدِيمِ .

( وَ ) صَلَّى ( الْعَصْرَ وَالشَّمْسُ بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ ) بِنُونٍ وَقَافٍ لَمْ تَتَغَيَّرْ ( قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَهَا صُفْرَةٌ ) بَيَانٌ لِنَقِيَّةٍ .

( وَالْمَغْرِبَ إِذَا غَرَبَتِ الشَّمْسُ وَأَخِّرِ الْعِشَاءَ ) عَنِ الشَّفَقِ ( مَا لَمْ تَنَمْ ) وَفِي الصَّحِيحَيْنِ ، عَنْ أَبِي بَرْزَةَ : " أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَسْتَحِبُّ أَنْ تُؤَخَّرَ الْعِشَاءُ " ( وَصَلِّ الصُّبْحَ وَالنُّجُومُ بَادِيَةٌ مُشْتَبِكَةٌ ) مُخْتَلِطٌ بَعْضُهَا بِبَعْضٍ لِكَثْرَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا .

( وَاقْرَأْ فِيهَا بِسُورَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ مِنَ الْمُفَصَّلِ ) وَأَوَّلُهُ الْحُجُرَاتِ عَلَى الصَّحِيحِ إِلَى عَبَسَ .

( ش ) :قوله أن صل الظهر إذا زاغت الشمس ظاهره مخالف لظاهر كتابه إلى عماله المتقدم ذكره في قوله أن صلوا الظهر إذا فاء الفيء ذراعا ويحتمل أن يكون كتب إلى أبي موسى الأشعري بذلك في خاصة نفسه في غير وقت إمارته لأن صلاة الفذ في أول الوقت أفضل ويحتمل أن يريد بذلك الجمعة وقوله والعصر والشمس بيضاء نقية ما لم تدخلها صفرة تحديد لآخر وقتها وقوله وأخر العشاء ما لم تنم يحتمل أن يكون أمره بذلك في خاصة نفسه على ما اختاره ابن حبيب في قوله إن الإنسان في خاصة نفسه يستحب له أن يبطئ بها بعد وقت الصلاة في المساجد ما لم يخف النوم ويحتمل أن يكون قد علم من حاله المبادرة بالنوم في أول الليل حرصا على التهجد في آخره فأمره بتأخير العشاء ليدركها معه العمال وأهل الأشغال ما لم ينم قبلها في الوقت الذي جرت عادته بالنوم فيه

( فصل ) وقوله واقرأ في الصبح بسورتين طويلتين من المفصل يريد بعد قراءة أم القرآن ولم يحتج إلى ذكرها لما علم أنه تقرر عندهم أنه لا يجزي صلاة إلا بها وسنبين ذلك بعد هذا وإنما أمره أن يقرأ في كل ركعة بسورة من طوال المفصل لأن صلاة الصبح أطول الصلاة قراءة وطوال المفصل فيها عدل لأن في ذلك أخذا بحظ من التطويل ولا يخلو ذلك من الرفق بالناس وأما الرجل في خاصة نفسه فليطول ما شاء وإنما سمي المفصل لكثرة انفصال سوره وقيل سمي بذلك لثبوت أحكامه وقلة المنسوخ فيه ولذلك سمي المحكم

Friday, May 27, 2016

MAJLIS MUWATTA HADIS KE 5


HADIS KE 5

مَالِكٍ ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ ، وَعَنْ بُسْرِ بْنِ سَعِيدٍ ، وَعَنِ الْأَعْرَجِ . كُلُّهُمْ يُحَدِّثُونَهُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ : " مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصُّبْحِ ، قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الصُّبْحَ ، وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الْعَصْرَ "



MAKNA HADIS

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari [Zaid bin Aslam] dari ['Atho` bin Yasar],[Busr bin Said] dan [Al A'raj], semuanya menceritakannya dari [Abu Hurairah], Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa mendapatkan satu raka'at shalat subuh sebelum matahari terbit, dia telah mendapatkan shalat subuh. Barangsiapa mendapatkan satu raka'at shalat Ashar sebelum matahari terbenam maka dia telah mendapatkan shalat ashar."

PENGENALAN PERAWI HADIS


•        Ayah Abdurrahman bin Zaid bin Aslam (w. 136 H)
•        Nama lengkapnya adalah Zaid bin Aslam al-Qarasyi al-‘Adwi.
•        Nama kuniyahnya adalah Abu Usamah.
•        Beliau budak dari Umar Abu Abdullah.
•        Beliau merupakan thabaqat yang ketiga yakni golongan pertengahan                 tabi’in.
•        Abu Ja’far berkata beliau wafat pada tahun 136 H pada bulan Dzulhijjah.
•        Beliau seorang ahli fiqh.

•        Beliau meriwayatkan hadis dari ayahnya (Aslam), Ibnu Umar, Abi Hurairah, Aisyah, Jabir, Rabi’ah bin ‘Ibad al-Dili, Salamah bin al-Akwa, Basir bin Sa’id,[10] Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah, Khalid bin Aslam (saudaranya), Abdullah bin Umar bin Khattab, Abdullah bin Abi Qatadah, Atha’ bin Yasir, Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, dll.

•        Dan yang meriwayatkan darinya yakni ketiga anaknya (Usamah, Abdullah, Abdurrahman), Malik, Ibnu ‘Ajlan, Ibnu Jarij, Sulaiman bin Bilal, Muhammad bin Ja’far bin Abi Katsir, Ma’mar, Hasyim bin Sa’id.

•        Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, Abu Zur’ah, Abu Hatim, Muhammad bin Sa’ad,  dan An-Nasa’i, mereka berkata beliau tsiqah.
•        Ya’qub bin Syaibah berkata beliau tsiqah, ahli fiqh dan ilmu. Yahya bin Ma’in berkata beliau shaduq.
•        Al-‘Ajali berkata beliau orang Kuffah tsiqah.








 FAEDAH HADIS


1.      Pengertian mendapatkan waktu, bukan mendapatkan solat hanya dengan satu rakaat sahaja.

2.      Ijma muslimin berkaitan mendapatkan waktu jika dapat satu rakaat solat di dalam waktu itu.

3.      Bukan difahami zahirnya dapat satu rakaat ( solat serakaat sahaja).

4.      Bukan difahami zahirnya hadis, boleh dilewatkan dengan sengaja hingga ke saat akhir waktu.

5.      Solat munafik selalu dilewatkan berdasarkan hadis ;


عَنْ أَنَسٍ ، عَنِ النَّبِيِّ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - أَنَّهُ قَالَ فِي الَّذِي يُؤَخِّرُ صَلَاةَ الْعَصْرِ حَتَّى تَصْفَرَّ الشَّمْسُ وَتَكُونُ بَيْنَ قَرْنَيِ الشَّيْطَانِ : " أَنَّهَا صَلَاةُ الْمُنَافِقِينَ " .

6.      Hadis ini bukan menunjukkan boleh melewatkan solat dengan sengaja, tetapi untuk yang darurat umpama orang baru sedar dari mabuk, haid yang baru suci, orang baru masuk islam.

7.      Ijma muslimin di atas sesiapa yang uzur pada meninggalkan solat hingga ke waktu ini, kemudian dia mampu menunaikan solat, maka wajib dia solat jika waktu masih berbaki untuk serakaat dalam waktu itu.

8.      Tidak perlu diulangi solatnya, jika seseorang itu solat diwaktu ini.


9.      Menurut as Syafie jika seseorang keluar untuk musafir selepas masuk waktu maka mesti tamamkan solat itu.
Begitu juga jika tiba musafir di dalam waktu maka hendaklah tamamkan solat kerana telah hilang illah musafir.

10.    Khilaf fuqaha berkaitan solat orang haid dan yang sedar dari mabuk ;

Berkata as Syafi’e ; jika suci perempuan haid sebelum tenggelam matahari dengan kadar serakaat, hendaklah dia ulang solat zohor dan asar, begitu juga jika suci ia sebelum fajar kadar serakaat hendaklah dia ulangi solat maghrib dan isyak. As Syafi’e berhujjahkan hadis ini.

[ ص: 226 ] 310 - واحتج بقول النبي - عليه السلام - " من أدرك ركعة من الصبح قبل أن تطلع الشمس فقد أدرك الصبح ، ومن أدرك ركعة من العصر قبل أن تغرب الشمس فقد أدرك العصر " ولجمعه - عليه السلام - بين الصلاتين في أسفاره ، وبعرفة والمزدلفة في وقت إحداهما - صلاتي الليل وصلاتي النهار - وجعل الوقت لهما معا وقتا واحدا .

11.    As Syafi’e berpendapat bagi yang mabuk kerana maksiat ( sengaja ) ; mesti qada semua solat yang tertinggal semasa mabuk.

12.    Sesiapa yang tidak mendapatkan serakaat sempurna bagi solat jumaat maka perlu teruskan solat zohor.

13.    Pendapat yang benar bagi orang yang sedar dari mabuk, gila, pitam, koma dll; tidak perlu qada solat ketika mabuk tersebut (kecuali solat dalam waktu setelah dia sedar). Ini adalah pendapat ibnu syihab, alhasan, ibnu sirin, rabiah, malik, syafi’e,abi thur.

14.    Berkata as Syafi’e dan ibnu aliyah ; jika perempuan haid diawal waktu zohor dengan kadar ia boleh solat zohor tetapi dia belum lagi tunaikan solat itu, maka mestilah qada zohor itu, kerana solat diwajibkan setelah masuknya waktu. Tetapi jika berlalu waktu kadar serakaat atau lebih ( bukan empat rakaat) tidak wajib qada. (berbeza dengan waktu akhir)


15.    Berkata malik, thauri, as syafie, al auzai’e iaitu perkataan umum para ulama daripada ahli hadis dan fukaha ; sesiapa yang tidur atau lupa atau terluput kemudian dia teringat ketika terbit matahari, atau lainnya maka hendaklah dia solat (sekalipun diwaktu tahrim) apabila dia teringatkan berdasarkan hadis ;
وقوله - عليه السلام - " من نام عن صلاة أو نسيها فليصلها إذا ذكرها " .


Thursday, May 26, 2016

ANTARA CIRI-CIRI AHLU SUNNAH WAL JAMAAH

AKIDAH AHLU SUNNAH WALJAMAAH
DALAM ASMA ALLAH DAN SIFAT ALLAH
SECARA UMUM



Ahlu sunnah wal jamaah ;


Mengenali Tuhan mereka dengan sifat-sifatNya yang terdapat dalam al-quran dan sunnah, mereka mensifatkan Tuhan mereka dengan segala sifat yang Tuhan sendiri sifatkan bagi diriNya, dan dengan segala sifat yang disifatkan oleh Nabi s.a.w tanpa mengubah makna, tidak ingkarkan nama Tuhan dan ayatNya.
Mereka menetapkan bagi Allah dengan apa yang ditetapkan sendiri oleh Allah tanpa menyerupakan, tanpa mengkaifiatkan, tanpa mengosongkan sifat dari makna. Kaedah mereka dalam asma dan sifat adalah berdasarkan ayat ;

: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ [الشورى:11]

Tiada sesuatupun yang sebanding dengan (ZatNya, sifat-sifatNya, dan pentadbiranNya) dan Dia lah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Melihat.

وَلِلَّهِ الأسماء الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [الأعراف:180]

Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik (yang mulia), maka serulah (dan berdoalah) kepadaNya dengan menyebut nama-nama itu, dan pulaukanlah orang-orang yang berpaling dari kebenaran dalam masa menggunakan nama-namaNya. Mereka akan mendapat balasan mengenai apa yang mereka telah kerjakan.


Ahlu sunnah wal jamaah ;

Tidak mengkaifiatkan (bincang cara) segala sifat Allah S.W.T kerana Allah S.W.T tidak ceritakan kaifiat (cara dan keadaan sifat secar detail), tiada sesiapa yang lebih tahu tentang Allah S.W.T selain Dia sendiri.

Firman Allah S.W.T

: قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمْ اللَّهُ [البقرة:140]

Katakanlah (wahai Muhammad): "Adakah kamu yang lebih mengetahui atau Allah?


: فَلا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الأَمْثَالَ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ [النحل:74]

Oleh itu, janganlah kamu mengadakan sesuatu yang sebanding dengan Allah, kerana sesungguhnya Allah mengetahui (setakat mana buruknya perbuatan syirik kamu) sedang kamu tidak mengetahuinya.



Tiada yang lebih mengetahui tentang Allah S.W.T lebih dari rasulNya


وَمَا يَنْطِقُ عَنْ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوحَى [النجم:4]

Dan ia tidak memperkatakan (sesuatu yang berhubung dengan agama Islam) menurut kemahuan dan pendapatnya sendiri. Segala yang diperkatakannya itu (sama ada Al-Quran atau hadis) tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.




Ahlu sunnah wal jamaah  ;

Mereka beriman bahawa Allah S.W.T yang awal tiada mendahuluiNya sesiapapun, Yang akhir tiada yang akhir kecuali Dia, Yang zahir, Yang batin seperti firmanNya


هُوَ الأَوَّلُ وَالآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [الحديد:3]

Dia lah Yang Awal dan Yang Akhir; dan Yang Zahir serta Yang Batin; dan Dia lah Yang Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu.


Mereka menetapkan apa yang ditetapkan oleh Allah S.W.T sendiri bagi DiriNya tanpa menyerupakan, membersihkan dari segala sifat kekurangan tanpa mengabaikan sifat-sifat yang telah Dia tetapkan.

Mereka percaya bahawa Allah S.W.T istiwa tinggi daripada arasy terpisah dari makhlukNya tanpa memberikan cara bagaimana istiwaNya


الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى [طه:5]

Iaitu (Allah) Ar-Rahman, yang bersemayam di atas Arasy.


وقال: ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ [الأعراف:54]

lalu Ia bersemayam di atas Arasy;


وقال: أَأَمِنتُم مَّنْ فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ أَمْ أَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ [الملك:17]

Atau patutkah kamu merasa aman (tidak takut) kepada Allah di langit itu: menghantarkan kepada kamu angin ribut yang menghujani kamu dengan batu; maka dengan itu, kamu akan mengetahui kelak bagaimana buruknya kesan amaranKu?


وقال: إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ [فاطر:10]

Kepada Allah lah naiknya segala perkataan yang baik (yang menegaskan iman dan tauhid, untuk dimasukkan ke dalam kira-kira balasan), dan amal yang soleh pula di angkatnya naik (sebagai amal yang makbul - yang memberi kemuliaan kepada yang melakukannya


وقال:يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ [النحل:50]

Mereka takut kepada Tuhan mereka yang mengatasi mereka (dengan kekuasaanNya), serta mereka mengerjakan apa yang diperintahkan.

وقال النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم: ((ألا تأمنوني وأنا أمين من في السماء؟))
"Tidakkah kalian memberi jaminan keamanan kepadaku dan aku adalah kepercayaan (Dzat) Yang berada di langit".
(HR. al Bukhary dan Muslim)



Ahlu sunnah wal jamaah ;

Percaya bahawa kursi dan arsy adalah perkara benar


وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ [البقرة:255]

Luasnya Kursi Allah meliputi langit dan bumi; dan tiadalah menjadi keberatan kepada Allah menjaga serta memelihara keduanya. Dan Dia lah Yang Maha Tinggi (darjat kemuliaanNya), lagi Maha Besar (kekuasaanNya)


Arsy tidak diketahui kadarnya(ukurannya) kecuali AllahS.W.T, dan kadar kursi dinisbahkan kepada arsy adalah seperti cincin dicampakkan ditengah padang pasir, Allah S.W.T tidak memerlukan arsy dan kursi, Dia tidak istiwa atas daripada arsy kerana memerlukan arsy tetapi sebagai hikmah yang hanya diketahui olehNya. Bahkan arsy dan kursi tergantung dengan kekuasaanNya dan perintahNya.

Allah S.W.T menjadikan Adam dengan kedua tanganNya (BUKAN ANGGOTA TETAPI SIFAT YANG DIFAHAMI SAHAJA SEPERTI PEPATAH SITANGAN PANJANG, SIMUKA TEMBOK IANYA ADALAH SIFAT YANG DIFAHAMI SAHAJA TIDAK DAPAT DIGAMBARKAN APATAH LAGI DIBENTUKKAN), kedua tangan Allah adalah kanan, kedua tanganNya terbuka.

Firman Allah S.W.T


: وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُواْ بِمَا قَالُواْ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنفِقُ كَيْفَ يَشَاء [المائدة:64]

Dan orang-orang Yahudi itu berkata: "Tangan Allah terbelenggu (bakhil - kikir)", tangan merekalah yang terbelenggu dan mereka pula dilaknat dengan sebab apa yang mereka telah katakan itu, bahkan kedua tangan Allah sentiasa terbuka. Ia belanjakan (limpahkan) sebagaimana yang Ia kehendaki;.


وقال: مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ [ص:75]

Allah berfirman: " Hai lblis! Apa yang menghalangmu daripada turut sujud kepada (Adam) yang Aku telah ciptakan dengan kedua tanganKu? Adakah engkau berlaku sombong takbur, ataupun engkau dari golongan yang tertinggi? "



Ahlu sunnah wal jamaah ;

Menetapkan sifat mendengar, melihat, ilmu, kuasa, gagah, mulia, berkata-kata, hidup, kaki, betis, tangan dan lain-lain bagi Allah S.W.T yang Dia sendiri telah tetapkan di dalam al-quran dan sunnah dengan cara kaifiat yang hanya Dia yang mengetahui kerana Allah S.W.T tidak ceritakan kepada kita.

Firman Allah S.W.T

] وقال: وَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ [التحريم:2]

dan Ia Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana.


وَكَلَّمَ اللّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا [النساء:164]

Dan Allah telah berkata-kata kepada Nabi Musa dengan kata-kata (secara langsung, tidak ada perantaraan).


وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإِكْرَامِ [الرحمن:27]

Dan akan kekallah wajah Tuhanmu yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan:


رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ [البينة:8]

Allah reda akan mereka dan merekapun reda (serta bersyukur) akan nikmat pemberianNya. Balasan yang demikian itu untuk orang-orang yang takut (melanggar perintah) Tuhannya.


يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ [المائدة:54]

Ia kasihkan mereka dan mereka juga kasihkan Dia


فَلَمَّا آسَفُونَا انتَقَمْنَا مِنْهُمْ [الزخرف:55]

Setelah mereka menyebabkan kemurkaan Kami (dengan perbuatan derhaka itu), Kami menyeksa mereka,


يَوْمَ يُكْشَفُ عَن سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلا يَسْتَطِيعُونَ [القلم:42]

(Ingatkanlah orang-orang yang tidak beriman) akan masa didedahkan betis (hari kiamat), dan mereka diseru supaya sujud maka mereka tidak dapat melakukannya, -


اللّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ [البقرة:255]

Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Tetap hidup, Yang Kekal selama-lamanya mentadbirkan (sekalian makhlukNya).


غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ [المجادلة:14]

kaum yang telah dimurkai Allah (dengan sebab kekufuran dan khianatnya)



Ahlu sunnah wal jamaah ;

Mereka percaya bahawa orang beriman akan melihat Tuhan mereka di akhirat dengan mata-mata mereka, menziarahiNya, bercakap-cakap denganNya


: وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ [القيامة:23]

Pada hari akhirat itu, muka (orang-orang yang beriman) berseri-seri; Melihat kepada Tuhannya.


Mereka juga percaya bahawa Allah S.W.T turun ke langit dunia pada sepertiga malam akhir sebagaimana kata Nabi s.a.w


((ينزل ربنا إلى السماء الدنيا كل ليلة حين يبقى ثلث الليل الآخر؛ فيقول: من يدعوني فأستجيب له؟ من يسألني فأعطيه من يستغفرني فأغفر له؟))

"Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir. Maka Dia akan berkata : 'Siapa yang akan berdoa kepada-Ku, sehingga Aku mengabulkan doanya? Siapa yang meminta kepada-Ku sehingga Aku memberikan permintaannya? Siapa memohon ampun kepada-Ku sehingga Aku mengampuninya?'."
(HR. al Bukhary dan Muslim)


Mereka juga percaya bahawa Allah S.W.T datang pada hari kiamat nanti untuk memutuskan perhitungan antara hamba-hambanya

Firman Allah S.W.T



: كَلاَّ إِذَا دُكَّتِ الأَرْضُ دَكًّا دَكًّا وَجَاء رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا [الفجر:21- 22]

"Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Rabb-mu; sedang malaikat berbaris-baris".
(QS. Al Fajr ayat 21-22)





Maka manhaj ahlu sunnah wal jamaah pada semua itu, ialah percaya dengan sempurna terhadap apa yang dikhabarkan oleh Allah S.W.T dan apa yang dikhabarkarkan oleh Nabi s.a.w serta tunduk patuh.

Berkata imam az Zuhri ; risalah dari Allah S.W.T, rasul menyampaikan, kita menerima. (Riwayat Imam al Baghawi dalam Syarh as Sunnah)

Imam Sufian bin Uyainah ; setiap apa yang Allah S.W.T mensifati akan diriNya di dalam al-quran, maka bacaan ayat itulah tafsirnya tanpa kaifiatkan, tanpa serupakan. (R. Imam al Lâlikâ-i dalam Syarh Ushûl I'tiqâd Ahl as Sunnah wa al Jamâ'ah)

Imam as Syafie berkata ; aku beriman terhadap Allah, dengan apa yang datang dari Allah di atas kehendak / tujuan Allah S.W.T dan aku beriman terhadap rasulullah, apa yang dibawanya dan diatas kehendak maksudnya. (Lum'ah al I'tiqâd, oleh Imam Ibnu Qudâmah al Maqdisi).

Al Walid nin Muslim berkata ; aku bertanya al Auzai’e, Sufyan bin Uyainah dan Malik bin Anas berkaitan hadis-hadis sifat Allah serta hadis melihat Allah S.W.T. Maka mereka semua berkata ; jalankanlah sebagaimana ianya datang dengan tanpa kaifiatkan. (R. Imam al Baghawi)

Imam Malik bin Anas berkata ; hati-hati kamu dengan bida’ah. Dikatakan ; apa itu bida’ah? Kata Imam Malik ; ahlu bida’ah ialah mereka yang berkata-kata ( berbincang panjang ) pada asma Allah dan sifatNya dan kalamNya dan ilmuNya dan kekuasaanNya, mereka tidak diam sebagaimana diamnya ( dari membincangkan ) para sahabat dan tabiun. (R. Imam al Baghawi)

Seorang lelaki bertanya kepada beliau berkaitan ayat istiwa, bagaimana Allah istiwa? Kata Imam Malik ; isitiwa tidaklah majhul ( bukan sesuatu yang tidak diketahui ), kaifiat tidak terfikirkan, percaya terhadapnya wajib, bertanya tentang cara itu bida’ah dan aku lihat engkau adalah sesat. Diarahkan supaya lelaki tersebut keluar dari majlisnya. (R. Imam al Baghawi)

Imam Abu Hanifah berkata ; tidak patut bagi seseorang bahawa membincangkan sesuatu pada Zat Allah, bahkan hendaklah ia sifatkan sebagaimana Allah sendiri sifatkan buat diriNya, dan janganlah seseorang itu berkata dengan pemikirannya sesuatu ( tentang sifat ). Ketika di tanya kepada beliau tentang sifat nuzul (turun). Kata beliau ; Dia turun tanpa cara (yang diketahui). (Syarh al 'Aqîdah ath Thahâwiyah, Imam Ibnu Abil 'Izz)Al hafiz Nua’im bin Hamad al Khazai’e berkata ; sesiapa yang menyerupakan Allah S.W.T dengan makhlukNya maka dia telah kafir ( SEPERTI MENGATAKAKAN TURUN ALLAH SEPERTI TURUN MAKHLUK, TANGAN ALLAH SEPERTI TANGAN MAKHLUK, WAJAH ALLAH SEPERTI WAJAH MAKHLUK ) dan sesiapa yang mengingkari apa yang telah Allah sifatkan buat diriNya maka kafir, bukanlah mensifati diri Allah dengan sifat yang disifatkan oleh Allah sendiri dan rasulnya  itu adalah tasybih ( serupakan ) dengan makhluk. (R. Imam adz Dzahabi dalam al 'Uluww li al 'Aliyy al Ghaffâr)


Oleh yang demikian berhati-hatilah dengan dendangan orang-orang yang mengaku ahlu sunnah wal jamaah, sedangkan apa yang didendangkan oleh Allah S.W.T dan rasul s.a.w terlalu jauh dalam pengangan mereka.


Wallahuaklam.